SURABAYA- Tim bayi kembar siam RSU Dr Soetomo Surabaya berhasil memisahkan bayi kembar siam dempet pinggul Rochman dan Rochim, setelah melakukan operasi pemisahan selama hampir 17 jam. Keduanya hingga kemarin langsung diawasi secara ketat di ruang pulih sadar Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPPT) RSU Dr Soetomo Surabaya, sebab keduanya masih memasuki masa kritis.
Keberhasilan pemisahan ini patut diacungi jempol, pasalnya tim awalnya merencanakan 27 jam, namun lebih cepat dari perkiraan semula. Yakni, hanya 17 jam. “Operasi pemisahan lebih cepat dari yang kita perkirakan, hanya waktu 17 jam dari 27 jam yang kita rencanakan,” kata juru bicara tim bayi kembar siam RSU Dr Soetomo Surabaya Agus Hariyanto di Surabaya, Minggu (10/4), kemarin.
Jadwal awal operasi dimulai Sabtu pukul 07.00 WIB, dan direncanakan selesai pada Minggu pukul 09.00. Namun pada Sabtu malam sekitar pukul 24.00, keduanya sudah berhasil dipisahkan bahkan operasi dinyatakan selesai. Dijelaskan, tim sengaja memberi waktu sampai 27 jam untuk mempelajari rekonstruksi dan struktur tubuh keduanya dan ini membutuhkan waktu lama.
Namun sayangnya, tim dokter tak bisa membuat keduanya memiliki organ yang lengkap seperti anak-anak normal lainnya. Anak pasangan Anis Mulyo (43) dan Supinah (35) asal Jombang ini mengalami cacat seumur hidup karena tak memiliki anus dan alat kelamin.
Kasus pygopagus yang dialami Rochman dan Rochim diakui sulit oleh tim dokter, karena ternyata terdapat faktor parapagus atau dempet pinggul samping. Namun, kesulitan ini akhirnya bisa diatasi. Saat diakukan operasi pemisahan, semuanya berjalan lancar, tim dapat begitu mudah menemukan solusi bila ada masalah sehingga dalam waktu singkat bisa selesai dikerjakan.
Masa yang paling menegangkan, lanjutnya, ketika tim harus memutuskan harus diberikan ke siapa alat kelamin tersebut, sebab dua anak itu hanya memiliki satu alat kelamin. Setelah melihat anatomi tubuh kedua bayi dan dominasi aliran darahnya mengalir ke siapa, tim akhirnya memutuskan alat kelamin yang hanya berjumlah satu kepada Rochim. “Kita berikan ke Rochim, karena aliran pembuluh darah yang lebih banyak ke dirinya. Inilah keputusan tim medis dan orangtua harus memahami itu,” ujarnya.
Kedua bayi dalam pengawasan ketat, setelah operasi nanti keduanya menjalani penyembuhan luas permukaan iris yang cukup lebar, kerja fungsional saluran kencing, cerna hingga penutupan kulit dengan bedah plastik. Kedua bayi harus melalui tiga hari pertama dan tujuh hari setelah itu untuk bisa dinyatakan sehat atau sembuh. “Untuk sementara keduanya tetap di ruang khusus intensive care unti (ICU),” tuturnya.
Rokhman yang tak memiliki anus dan alat kelamin, kata Agus Hariyanto, agar buang air besarnya tetap lancar, dokter membuatkan Stoma (lubang kecil di sisi kiri perut). Sedangkan untuk buang air kecil atau kencing, dokter juga membuat lubang di dekat saluran kemihnya tepatnya di bawah pusar.
“Ini bukan karena kami gagal, tetapi dari awal yang memiliki fungsi organ lengkap itu adalah Rochim dan selama ini Rochman menumpang di saluran pembuangan Rochim. Makanya, Rochim lah yang kami berikan anus dan kelamin. Rochman memiliki usus pembuangan air kecil dan besar juga, hanya saja dia tak punya otot untuk menahan pipis maupun buang air besar. Jadi untuk sementara kami buatkan stoma saja, hingga menunggu kondisi kesehatan keduanya pulih,” ujar Prof Dr ar David Perdanakusuma SpBP (K), saat memberikan keterangan pers, kemarin.
Bagaimana dengan masa depan Rochman tanpa alat kelamin dan anus, Dr Poerwadi SpB, mengaku Stoma itu hanya sementara. Tujuannya untuk menghindari terjadinya infeksi saat penyembuhan jahitan di perut dan lambung. Setahun kemudian, stoma sudah bisa ditutup dan dialihkan ke pembuatan anus buatan.
“Tetapi semua itu melihat kondisi kesehatan bayinya dulu, jika sehat maka akan cepat kami lakukan. Tetapi jika lama dan si bayi sudah nyaman maka akan tetap begitu. Begitu pula dengan kemaluan, tim dokter akan membuatkan tonjolan kecil untuk saluran kencing. Tetapi yang paling penting adalah kesehatan keduanya,” pungkasnya. (jpnn/dtc/udi)

Refleksi,Topik Hari IniComments Off